Email : m.umar_arisandi@yahoo.com
Fb : Muhammad Umar Arisandi
Twitter : @UmarMoh
BBM : 7c2242c7
Line : arisandi_wcds
Instagram : @m.umar_arisandi
Fb : Muhammad Umar Arisandi
Twitter : @UmarMoh
BBM : 7c2242c7
Line : arisandi_wcds
Instagram : @m.umar_arisandi
Senin, 16 November 2015
KRITISI BUKU“Kebudayaan Dan Waktu Senggang”
KRITISI BUKU
KEBUDAYAAN DAN WAKTU SENGGANG
(FRANSISKUS SIMON)
OLEH
Nama : Muhammad Umar Arisandi
NIM : 4133111037
Kelas : Pendidikan Matematika C 2013
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015
KRITISI BUKU“Kebudayaan Dan Waktu Senggang”
Judul : Kebudayaan Dan Waktu Senggang
Penulis : Fransiskus Simon
Tahun Terbit : 2008
Tebal : 134 halaman
Jumlah Bab : 5 Bab
Penerbit : JalasutraYogyakarta
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 979-3684-95-X
Daftar Isi
Prakata
Riwayat Singkat
Pengantar
Pendahuluan
1.Berbagai Pemahaman Tentang Kebudayaan
Kebudayaan Dalam Pemahaman Para Pemikir Indonesia
Kebudayaan Dalam Pemahaman Para Pemikir Barat
Kemungkinan Lain Membaca Kebudayaan
2.Persoalan Krusial Kebudayaan
Persoalan-Persoalan Intern
Persoalan-Persoalan Ekstern
3. Kemungkinan Paradigma: Tiga Model Kebudayaan
Sekilas Tentang C. A. van Peursen
Model-Model Kebudayaan dari van Peursen
atatan-Catatan
4. Waktu Senggang sebagai Dasar Kebudayaan
Mengenal Josef Pieper
Reposisi Waktu Senggang menurut Josef Pieper
Pengertian Dasar dan Interlokutor Waktu Senggang
Sifat Waktu Senggang: Perayaan dan Pembebasan
Waktu Senggang Sebagai Kotemplasi
Catatan-catatan
5. Waktu Senggang sebagai Strategi Kebudayaan
Waktu Senggang: “Artes Liberales”
Waktu Senggang: Kritik Kebudayaan
Waktu Senggang: Proses Belajar dan Pemberadaban
Poskrip: Suatu Panggilan Filsafati
Catatan-catatan
Daftar Pustaka
Manusia dan Kebudayaannya merupakan wacana yang selalu menarik untuk didiskusikan. Hal ini tidak terlepas dari korelasi keduanya yang begitu erat dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Bagi manusia, kebudayaan merupakan mode of being dan mode of doing atas realitas kehidupan yang membuat manusia dalam budaya kolektif tertentu memiliki makna panutan baku untuk mencapai kesejahteraan yang berkesinambungan.
Manusia adalah makhluk kritis dan kreatif. Dengan potensi kognitifnya manusia mampu mengubah segala sesuatu yang ada di sekitarnya menjadi lebih berarti dan sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Manusia sesungguhnya telah memiliki masalah dengan kebudayaannya sejak lahir ke dunia ini. Oleh sebab itu, berbagai upaya dilakukan manusia untuk memahami kebudayaannya baik secara empiris, genealogis, metaforis dengan melakukan kajian-kajian bidang kebudayaan dan telah menghasilkan pengertian-pengertian baru, yang bukan saja saling menyempurnakan namun adapula mendekonstruksi pengertian sebelumnya sehingga wacana kebudayaan seolah tidak kunjung tuntas. Manusia dan kebudayaannya memang merupakan salah satu permasalahan hidup yang kompleks, baik secara empiris maupun teoritis. Dari berbagai persoalan, wacana kebudayaan yang muncul tentunya menuntut strategi baru, konsekuensi atas proyek-proyek imaji manusia yang cenderung liar tidak terbendung. Persoalan inipun telah melahirkan hal-hal baru sebagai identitas budaya di zamannya masing-masing.
Ketika mendengar istilah “waktu senggang”, mungkin tidak ada sesuatu yang istimewa di dalam benak kita. Istilah ini begitu sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, sehingga saking seringnya, barangkali, kita tidak memiliki asosiasi tertentu, selain momen jeda di luar dari rutinitas kerja sehari-hari.
Jika di antara kita ada yang memiliki pemahaman seperti itu, kita perlu menyadari bahwa hal itu tidak lahir begitu saja, tapi terkait dengan evolusi panjang tentang bagaimana manusia mempersepsi waktu dari zaman ke zaman. Dalam kebudayaan pramodern, manusia belum mengenal istilah waktu senggang, karena bagi manusia zaman itu, waktu adalah totalitas yang belum terpecah menjadi unit-unit yang lebih kecil, seperti jam, menit, atau detik. Antara waktu, diri, dan semesta adalah koeksistensi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sehingga, tentang bagaimana cara manusia menghayati waktu --bersifat sebangun dengan bagaimana caranya menghayati diri dan dunianya.
Waktu senggang melahirkan tatalaksana berbudaya. Didalamnya manusia tidak saja melakukan diskursus rasional tetapi merajut senarai nilai, tujuan, hakikat hidup, menggayut kedalaman batin, atau bernegosiasi untuk kepentingan kebersamaan. Sikap matang menggauli realitas secara meluas, terbuka, arif, dan keterpaduan untuk memahami persoalan. Waktu senggang adalah the art of silence, seni dalam diam yang tidak berarti membisu. Sikap diam yang merayakan. Berisi keterbukaan dan penegasan (Hal. 65). Waktu senggang menghidupi kerja dalam kesatuan makna, kreatifitas, inspirasi kritis terhadap diri, menyadari kemanunggalan hidup dalam dunia batin setiap diri, merajut kohesifitas diri berjejaring meraih kesejatian dalam proses pembelajaran berbudaya guna mencapai keadaban. Kehadiran waktu senggang mewadahi setiap orang memecahkan persoalan secara opend-mind, ragam paradigma diintegrasikan, kesalinghubungan yang kaya itu dirayakan untuk memeroleh kebaikan bersama (Hal. 99). Waktu senggang dengan demikian mensyaratkan hadirnya orang bebas yang tiada terhamba hedonisasi, tidak terjajah dan terkebiri oleh kuasa negara, ideologi dan agama. Ia perlu hadir dalam kebudayaan yang membebaskan agar supaya orang selalu memiliki peluang merefleksikan diri secara otonom dan tetap mampu berimajinasi, berintuisi dan merasa. Berebutlah demi sebuah waktu senggang yang didasari oleh kekuatan akal budi!
Menarik untuk disimak karena Fransiskus Simon melalui bukunya yang berjudul “Kebudayaan dan Waktu Senggang”, mewacanakan perihal hubungan kebudayaan dengan waktu senggang. Arah pemikiran Fransiskus Simon dalam bukunya ini mencoba menarik kebudayaan dari pergumulan konseptualitasnya, kemudian mengajak para pembaca untuk memetakan, memahami dan memberi makna atas kebudayaan itu kembali. Dengan kata lain, arah dari penjabaran yang disampaikan dalam bukunya itu tidak bermaksud menumpas kebudayaan dalam konteks konseptualitas, melainkan untuk memperkaya perbendaharaan ide dan usul yang lebih representatif.
Fransiskus Simon di awal bukunya secara struktural mengawali perbincangannya dengan membahas persoalan tentang pengertian kebudayaan sampai pada substansi pembahasan mengenai pemahaman baru kebudayaan. Dalam kaitan ini, beragam pemahaman kebudayaan yang diungkapkan dilihat dari ide-ide para pemikir di Indonesia maupun luar Indonesia yang dijabarkan sedemikian rupa dari berbagai konteks di zaman yang berbeda. Dari sejumlah pemahaman yang majemuk tersebut, Fransiskus Simon mengajak para pembaca menengok pemahaman kebudayaan yang telah ada.
Pada zaman pra-modern, manusia memiliki pengalaman eksistensial pada makna kehidupan spiritualitas. Kekuatan alam semesta yang indah sekaligus menakutkan telah mengkonstruksikan budaya pemujaan manusia. Diri dihayati sebagai bagian dari kesemestaan, demikian pula sebaliknya. Sehingga refleksi dialog batin antara semesta dan dirinya termanifestasi dalam ritual. Sementara, makna hidup berbudaya pada manusia modern terletak pada pemikiran, analisis dan spekulatif. Keberadaan imaji audiovisual elektronik di zaman ini melahirkan keterpesonaan terhadap kecerdasan dan kekuasaan elektronik. Oleh karenanya, segala energi terserap oleh pesona eksisteorisitas hasrat dan imaji (kerja, belanja, mengonsumsi, dan traveling) sehingga ruang reflektivitas kurang menjangkau substansi budaya, melainkan bergeser menjadi dialog rasional tentang kemungkinan-kemungkinan pemahaman diskursif dan kesimpulannya. Walaupun identitas kebudayaan masing-masing zaman berbeda-beda, baik ketika zaman pra-modern maupun zaman modern, namun penekanan reflektivitas manusia berbudaya tetap tergantung pada ruang potensial yang disebut sebagai “waktu senggang”.
Beragam masalah kebudayaan baik secara intern maupun ekstern dibahas pada Bab 2. Secara intern meliputi persoalan identitas, kebingungan dalam proses sejarah dan tradisi, ketidak-sadaran akan karakter fiktif, kesadaran diri dan kesenjangan antara visi ideal normatif tentang diri dengan realitas yang sulit, penyikapan paranoia ketika mendarat pada wilayah-wilayah pengalaman “perubahan”, ketegangan-ketegangan internal yang terjadi ketika menampilkan “diri” di hadapan “interlokutor-diri” pada perangkat pemahaman. Sedangkan secara ekstern, wacana kebudayaan mencangkup masalah : politik representasi multifaset, kemungkinan-kemungkinan dalam melakukan transaksi-transaksi kultural, identitas yang berkelanjutan, kebudayaan pada proses yang nomadik masa lampau, sebagai unsur-unsur pembentuk kesadaran, akar ketidak-sadaran nilai-nilai dan perilaku kolektif, kebudayaan sebagai sistem simbol yang telah menyingkapkan makna kehidupan dalam ruang dan waktu, serta kebudayaan sebagai rasionalitas khas yang telah membuat hidup manusia menjadi lebih dapat dipahami.
Berdasarkan problematik, Fransiskus Simon membahas dan memahami kebudayaan dengan meminjam kerangka pikir Van Peursen sebagaimana dipaparkan pada bab 3. Sebelum menjelaskan waktu senggang, sebagai strategi kebudayaan Fransiskus Simon memperkenalkan pemahaman teknis terminologi strategi. Pokok-pokok gagasan Peursen ini oleh dipaparkannya kemudian ditransmisikan untuk memperoleh pemahaman baru tentang kebudayaan.
Pada Bab 4, Fransiskus Simon mewacanakan waktu senggang sebagai unsur dasar dari kebudayaan. Pembahasan ini diawali dengan memperkenalkan Josef Pieper, kemudian melanjutkan dengan penjelasan reposisi waktu senggang sebagai unsur dasar dalam perspektif Josef Peiper. Setelah itu, Fransiskus Simon sang Penulis melanjutkan dengan menjabarkan dan menguraikan pengertian dasar “interlokutor waktu senggang”. Di tengah ruang waktu senggang menurutnya terdapat dimensi perayaan dan pembebasan dalam rangkaian “permainan” dan kreativitas imajinasi. Hal ini diperkuat oleh gagasan Gadamer tentang permainan sebagai mode of being. Berbeda halnya dengan waktu senggang yang berdimensi pembebasan, bagi Fransiskus Simon hal ini dianggap telah memberi ruang pada gagasan “pekerjaan intelektual”, yakni kontemplasi dan relevansinya bagi kebudayaan. Pada akhir Bab ini, Fransiskus Simon membahas peranan waktu senggang bagi kebudayaan. Fransiskus Simon yang terinspirasi pemikiran Pieper membicarakan fungsi waktu senggang sejalan dengan paradigma tindakan, yakni artes liberales, kritik kebudayaan, proses belajar, dan pemberadaban. Dengan pemahaman ini, Fransiskus Simon mengajak pembaca memandang kebudayaan sebagai proses rehumanisasi.
Menarik untuk disimak karena peranan waktu senggang pada kebudayaan dianggap sangat penting. Pemikiran yang dipaparkan Simon pada Bab 3, Bab 4, dan Bab 5 merupakan acuan inspiratif, pokok pemikiran utama dari buku ini. Fransiskus Simon sebagai penulis buku ini menegaskan berbagai hal-hal khas pada kebudayaan dan persoalan terkait dengan waktu senggang.
Waktu senggang di sini merujuk pada ranah yang mengandung beragam tantangan bagi pemilik intelektual, sehingga waktu senggang juga dipahami sebagai medan radikalisasi dan penajaman semua hal yang terpahami maupun sebaliknya. Dengan berwaktu senggang dan membiarkan diri tenggelam dalam samudra imajinatif sangat berpotensi menumbuhkan gagasan-gagasan baru yang menakjubkan, sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar para koreografer dalam proses melahirkan suatu karya seni baru ketika ujian tahap akhir (TA).
Waktu senggang tidak selalu identik dengan menganggur dan kehilangan pekerjaan. Apalagi meningggalkan pekerjaan. Kebutuhan orang terhadap waktu senggang juga bukan semata-mata berorientasi tentang penjelasan terhadap cara kita beristirahat oleh karena kecapekan setelah seharian bekerja keras. Bukan juga cara bagaimana beristirahat yang baik melalui tips psikologis untuk mencapai kualitas istirahat dan menekan laju angka stres dalam bekerja. Waktu senggang adalah manifestasi kultural manusia yang dihidupi oleh bertumbuhkan dialektika akal budi merajut akar kemanusiaan dan kebebasan. Waktu senggang juga bukan semata habitat keindonesiaan tentang jagongan, ngerumpi, omong kosong bagi orang yang sedang tidak bekerja. Waktu senggang membuat medan sosial tersebut lebih bermakna filosofis daripada makna perayaan hedonistik. Mengapa demikian ? Waktu senggang yang dimaknai sebagai rekreasi telah terperangkap dalam dalil modernisme yang selalu dihubungkan dengan pekerjaan dan uang. Kualitas waktu senggang kemudian ditentukan oleh kesanggupan dalam membayar dengan sejumlah uang untuk rekreasi, menempati sebuah villa, menonton film, dan bisa saja menghadirkan orang untuk datang ke rumah untuk membantu mengajak tertawa karena waktu sudah sedemikian padat. Waktu bermanja, luang, santai, bahkan makna senggang hilang sebatas menjadi fungsi rekreatif yang ditempatkan sebagai terapi merefresh kondisi andrenalin oleh karena dikuras oleh rutinitas kerja. Pemerintah sendiri justru menempatkan area waktu senggang menjadi mobilisator ekonomi. Kebijakan libur/cuti bersama yang bertumpuk difungsikan sebagai parameter peningkatan pendapatan di bidang pariwisata. Watak ini masih jauh dari hamparan narasi inspiratif waktu senggang.
Langganan:
Komentar (Atom)